Ini Caraku Menghargai Sebutir Nasi

Semasa kecil mungkin orang tua kita sering bilang “ Kalau makan jangan lupa dihabiskan, jangan sampai tersisa nasinya” berhubung dulu masih kecil  seringkali kita tidak mau peduli omonga orang tua, apalagi jika lauk pauk yang kita makan tidak enak. Degan cara sembunyi-sembunyi kita buanglah nasi tersebut ke tempat sampah.

Namun tahukah,akhirnya lambat laun saya sadar akan makna sebutir nasi itu sangatlah berharga. Ada kisah menarik untuk saya bagikan mungkin bisa menjadikan kita lebih mengargai makanan.

“ Tepat pukul 12.00 siang aku tiba di stasiun Jogyakarta,suasana Jogya memang  masih sama seperti dulu meskipun agak berbeda dalam segi insfrastruktur-nya. Aku bingung ingin naik apa untuk menuju rumahku yang tidak terlalu jauh dari stasiun, ya sekitar 10 menit lah jika naik angkutan. Kemudian aku memutuskan untuk naik becak. Rasa ragu menghantuiku dikala itu “ Berfikir naik atau tidak ya, sebab abang tukang becaknya  sudah cukup tua untuk mengayuh sepeda, tak tega rasanya jika harus naik becak dengan kayuhan tenanganya yang seharusnya tak lagi bekerja sekeras ini.

Kala itu aku mulai mencairkan suasana dengan obrolan ringan, “ Pak, sudah lama mengayuh becak” , tanyaku.

“ iya betul sudah 20 tahun “ Jawabnya dengan logat jawa yang kental

“ Emangnya bapak ngak capek? Seharusnya seusia bapak ini sudah santai dirumah loh pak”, tandasku dengan nada pelan seolah menghayati obrolan kami .

“ Ya maunya begitu tapi kan nasib berkata  saya harus tetap berjuang untuk mencari sebutir nasi” jawabnya lagi.

Dalam perbincangan yang asik  ini aku seolah termangu dan tak habis fikir, lewat obrolan itu kira-kira 15 menit perjalananku menuju rumah. Disepanjang perjalanan ia pun tak segan untuk berbagai pengalanannya denganku, pengalaman yang mmbuat aku merasa takjub dengan semangat juangnya sebagai seorang yang memiliki tanggung jawab besar terhadap keluarga.

Begini  cerita ia yang kutangkap darinya ,” Tukang becak  berusia 73 tahun ini  merupakan Seorang bapak Parjo sebut saja, Ia megayuh becak kurang lebih sudah 20 tahun. Awalnya ia adalah pengusaha beras sukses , namun nasib mungkin belum berpihak kepadanya. Hingga akhirnya musibah menerpanya seluruh keluarganya berupa anak-istrinya meinggal dalam sebuah  kecelakaan mobil di Sidoarjo. Awal mula menjadi pengusaha  beras ia lupa bahwa selama itu pula ia tidak pernah berbagi kepada fakir miskin, senang berfoya-foya. Usahanya bangkrut dan ia jatuh miskin hingga akhirnya ia mengayuh becak sampai sekarang . Ada satu pesan terakhir yang saya ingat darinya.

 ”Jangan pernah meremehkan pemberian Tuhan meskipun 1  butir  beras”.

Pesan  itu membuat saya sadar dan menangis satu hal yang saya petik dari hikmah ini

“ kadang tuhan mengajarkan kita melalui banyak cara, bahkan pada seseorang yang belum pernah kita kenal, seseorang kecil yang sulit sekali kita berbagi kepadanya”.

Mulai hari itu pula saya berusaha semampu saya untuk lebih bersyukur terhadap rezeki yang tuhan beri. Dan tidak ingin membuang satu remeh nasi karena di luar sana banyak orang yang pasti membutuhkannya. Semoga  dengan cerita ini menginsipirasi kita semua dan kita bisa memetik hikmahnya serta mengahgai semua pemberiannya meskipun hanya satu butir nasi.

Sumber Gambar :

http://bogorwatch.wordpress.com/

http://jogjapulsa.net/

8 thoughts on “Ini Caraku Menghargai Sebutir Nasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s